Skip to content
Pusat Layanan Sumber Daya dan Kesejahteraan
PUSLASKA
Call Support 0811-6013-888
Email Support [email protected]
Location Jl. Kolam No. 1 Medan Estate
  • Beranda
  • Tentang
    • Visi & Misi
    • Profil
    • Struktur Organisasi
    • Pimpinan Dan Staff
  • Berita
  • Kerjasama
  • Layanan & Informasi
    • Aplikasi Layanan
      • Aplikai UMA
        • Sikuma
        • Direktori Dosen
        • Direktori Tenaga Pendidik
      • Aplikasi Kemdikbud/Dikti
        • Sister
        • PDDIKTI
    • Arsip Digital
      • Dokumen Dosen
      • Dokumen Tendik
      • Artikel
    • Helpdesk
  • id ID
    • en EN
    • id ID

Penyebab Utama Fenomena Anak Usia Dini Menggunakan Kacamata

Home > Artikel > Penyebab Utama Fenomena Anak Usia Dini Menggunakan Kacamata

Penyebab Utama Fenomena Anak Usia Dini Menggunakan Kacamata

Posted on Mei 28, 2026Mei 28, 2026 by ishaq
0

Dalam satu dekade terakhir, fenomena anak usia taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) kelas awal yang sudah menggunakan kacamata semakin umum dijumpai. Jika dulu kacamata identik dengan orang tua atau remaja yang rajin belajar, kini balita dan anak prasekolah mulai terlihat dengan lensa minus atau silinder di wajah mereka.

Apa yang sebenarnya menyebabkan anak usia dini sudah mengalami gangguan refraksi mata sehingga memerlukan kacamata? Berikut adalah faktor-faktor utama penyebabnya menurut para ahli kesehatan mata.

1. Faktor Genetik (Keturunan)

Ini adalah penyebab yang paling sulit dihindari. Jika kedua orang tua memiliki gangguan mata seperti rabun jauh (miopia) tinggi, maka risiko anak menderita hal yang sama meningkat secara signifikan.

Seorang anak yang lahir dari orang tua dengan riwayat miopia berat cenderung memiliki bentuk bola mata yang lebih panjang dari normal sejak lahir atau berkembang sangat cepat di usia dini. Akibatnya, cahaya yang masuk tidak jatuh tepat di retina, melainkan di depannya, sehingga objek jauh terlihat buram.

2. Paparan Layar Gadget yang Berlebihan dan Dini

Ini adalah penyebab nomor satu yang paling banyak disoroti di era digital. Anak usia dini (0-6 tahun) secara fisiologis mata mereka masih dalam masa perkembangan. Terlalu sering menatap layar smartphone atau tablet dalam jarak dekat memaksa otot-otot mata (otot siliaris) untuk berkontraksi terus-menerus.

Efek jangka panjangnya adalah kekakuan otot mata dan pemanjangan bola mata secara permanen (miopia). American Academy of Ophthalmology merekomendasikan bahwa anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak diberi paparan layar sama sekali, sementara anak 2-5 tahun dibatasi maksimal 1 jam per hari dengan pengawasan.

3. Kurangnya Aktivitas di Luar Ruangan (Outdoor Activity)

Penelitian besar yang dipublikasikan di jurnal Ophthalmology menemukan bahwa anak-anak yang jarang bermain di luar ruangan memiliki risiko miopia hingga 5 kali lebih besar dibandingkan anak yang rutin bermain di luar.

Cahaya matahari alami (terutama sinar UVB dalam dosis wajar) merangsang pelepasan dopamin pada retina. Dopamin berfungsi menghambat pemanjangan bola mata yang tidak normal. Anak modern yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan (indoor) tidak mendapatkan stimulus ini, sehingga mata mereka rentan memanjang secara patologis.

4. Kebiasaan Membaca atau Bermain dalam Pencahayaan Buruk

Meski gadget jadi biang kerok, kebiasaan klasik seperti membaca buku, mewarnai, atau bermain legi (balok kecil) dengan posisi tengkurap atau pencahayaan minim juga berkontribusi. Anak usia dini belum memiliki kesadaran untuk memperbaiki postur atau menyalakan lampu.

Mata yang terus dipaksa fokus dalam kondisi minim cahaya menyebabkan kelelahan mata (astenopia) kronis, yang akhirnya memicu penurunan tajam penglihatan.

5. Kurangnya Skrining Mata Sejak Dini

Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa pemeriksaan mata sebaiknya dimulai sejak usia 6 bulan, lalu 3 tahun, dan sebelum masuk SD. Gejala awal gangguan mata pada anak (seperti mata sipit, sering menggosok mata, atau sulit fokus pada objek) sering dianggap sebagai kebiasaan biasa atau “mata capek.”

Akibatnya, gangguan seperti ambliopia (mata malas) atau kelainan refraksi besar baru diketahui setelah anak mengeluh tidak bisa melihat papan tulis atau sering menabrak benda. Pada tahap ini, kacamata sudah menjadi keharusan.

6. Pola Makan yang Kurang Mendukung Kesehatan Mata

Meski bukan penyebab utama, defisiensi nutrisi tertentu memperparah risiko. Kurangnya asupan Vitamin A (dari wortel, telur, dan sayuran hijau), Lutein (dari bayam dan jagung), serta Omega-3 (dari ikan) dapat melemahkan struktur jaringan mata. Anak-anak picky eater yang hanya mengonsumsi karbohidrat dan makanan olahan cenderung lebih rentan terhadap kelelahan mata dan degenerasi dini.


Pentingnya Deteksi Dini

Tidak semua anak yang memakai kacamata mengalami miopia parah. Sebagian mungkin hanya membutuhkan kacamata untuk terapi (misalnya pada mata juling atau ambliopia) yang justru bersifat sementara. Namun, fenomena meningkatnya miopia dini adalah alarm bagi orang tua.

Gejala yang perlu diwaspadai pada anak usia dini:

  • Sering mengucek mata padahal tidak mengantuk.

  • Sering menyipitkan mata saat melihat TV atau papan tulis.

  • Kepala sering dimiringkan atau terlihat pusing setelah membaca.

  • Suka mendekatkan mainan atau buku sampai hampir menempel ke hidung.

Solusi dan Pencegahan

  1. Terapkan aturan 20-20-20: Setiap 20 menit melihat dekat, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.

  2. Wajib 2 jam di luar ruangan setiap hari, terutama di pagi hari.

  3. Batasi gadget: Tidak ada gadget untuk anak di bawah 2 tahun. Di atas 2 tahun, maksimal 1 jam dengan jarak mata ke layar minimal 50 cm.

  4. Periksa mata anak secara rutin ke dokter spesialis mata (opthalmolog) atau optometris, bahkan sebelum anak mengeluh.

  5. Penuhi gizi seimbang dengan sayur-sayuran berwarna oranye dan hijau, serta protein hewani.

Kesimpulannya, anak usia dini sudah menggunakan kacamata bukan semata karena “rajin belajar” atau “bakat genetik”, tetapi lebih karena gaya hidup modern yang penuh layar dan minim paparan alam. Deteksi dan intervensi dini adalah kunci agar gangguan mata tidak menjadi beban permanen bagi masa depan penglihatan anak.

INSTAGRAM

puslaska_uma

#PRSU50MEDAN Universitas Medan Area turut memeriah #PRSU50MEDAN
Universitas Medan Area turut memeriahkan Pekan Raya Sumatra Utara ke - 50 Tahun 2026, UMA membuka stand Informasi PMB agar lebih dekat ke masyarakat.
Yuk kunjungi! Stand PMB UMA 2026 di Gedung Serbaguna PRSU Medan.
#ALUMNISUKSES Kata Sambutan Dari Alumni UMA Sukses #ALUMNISUKSES
Kata Sambutan Dari Alumni UMA Sukses yang Menjadi Walikota Binjai, Drs. H. Amir Hamzah, M.AP.
Pada Wisuda Sarjana, Magister & Doktor UMA Periode I Tahun 2026
PUSLASKA UMA mengucapkan "Selamat Tahun Baru Isl PUSLASKA UMA mengucapkan 

"Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah"

Semoga tahun baru ini menjadi awal yang penuh keberkahan, kedamaian dan kebaikan untuk kita semua.

Informasi Lengkap Kunjungi :
➖➖➖➖➖➖➖➖
https://puslaska.uma.ac.id/
➖➖➖➖➖➖➖➖

Call Center UMA :
☎️0811-6013-888
.
#umabestari #universitasmedanarea #ptssehat #ptsterbaik ptsfavorite ptsmedan kampusmedan kampusfavorite kampusterbaik umasehat umabestari universitasmedanarea ptssehat tekniksipil teknikelektro teknikmesin arsitektur teknikindustri teknikinformatika manajemen akuntansi psikologi hukum ilmukomunikasi administrasipublik studikepemerintahan agroteknologi agribisnis biologi pascasarjana ptsterbaik ptsfavorite ptsmedan
#PRESTASIDOSENUMA Selamat & Sukses Kepada 23 Dosen #PRESTASIDOSENUMA
Selamat & Sukses Kepada 23 Dosen Universitas Medan Area atas Penandatanganan Kontrak Program Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat DPPM KEMDIKTISAINTEK Tahun Anggaran 2026
.
Informasi dan Pendaftaran Mahasiswa Baru :
➖➖➖➖➖➖➖
https://pmb.uma.ac.id
➖➖➖➖➖➖➖

Call Center UMA :
☎️0811 6013 888

#ptssehat #ptsterbaik #UMAkampusJuara KampusUnggul
Follow on Instagram

ALAMAT


Berita Lainnya

  • Jurang Harga BBM Subsidi dan Non-Subsidi
  • Dinding Anyaman Bambu dan Tanah Liat
  • Mahasiswa Biologi UMA Raih Beasiswa Orangutan 2026, Wujud Komitmen Kampus dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati
  • Dampak Buruk Konsumsi Tepung-Tepungan terhadap Kesehatan Pencernaan dalam Jangka Panjang
  • Dampak Buruk Penggunaan Lampu Terang saat Tidur Malam

Kategori

  • Artikel
  • Berita
  • KERJASAMA
  • PENGUMUMAN
  • Slider
  • Uncategorized
KAMPUS I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
(061) 7360168, Call Center : 0811-6013-888
Email : [email protected]
KAMPUS II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
(061) 42402994. Call Center : 0811-6013-888
Email: [email protected]
©PUSLASKA 2026- Universitas Medan Area