“Cengeng banget sih!”
“Dasar gendut!”
“Ah, kamu sih nggak becus!”
Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar biasa di telinga orang dewasa, tapi bagi seorang adik yang mendengarnya setiap hari dari kakaknya sendiri, ini bisa menjadi luka batin yang dalam. Ejekan antar saudara kandung sebenarnya sering dianggap sebagai “hal wajar” atau bentuk “candaan kakak-adik.” Namun, ketika ejekan itu terjadi terus-menerus, ia tidak lagi menjadi bahan tawa, melainkan sebuah agresi verbal yang bisa meruntuhkan rasa percaya diri, konsep diri, bahkan kesehatan mental anak.
Lantas, bagaimana cara orang tua menguatkan mental anak yang menjadi korban ejekan kakaknya, tanpa selalu menyalahkan salah satu pihak?
1. Jangan Sepelekan Perasaan Anak
Kesalahan paling umum orang tua adalah merespon keluhan adik dengan kalimat seperti: “Ah, biasa itu kakak lagi bercanda,” atau “Kamu jangan lebay, nanti juga baikan.” Padahal, bagi anak yang menerima ejekan, sakit yang dirasakan sangat nyata. Langkah pertama menguatkan mentalnya adalah dengan memvalidasi perasaannya. Katakan, “Maaf ya, kamu merasa sakit hati. Ejekan kakak memang nggak enak didengar.” Dengan divalidasi, anak merasa aman dan tidak sendirian.
2. Ajarkan Anak Mengenali Emosi dan Batasan Diri
Anak yang sering diejek rentan kehilangan batasan dirinya (boundary). Ia mulai percaya bahwa “memang saya bodoh” atau “memang saya jelek.” Latih mentalnya dengan mengajarkan bahwa ejekan adalah opini kakak, bukan fakta. Gunakan teknik “baju zirah” (imaginary armor) – ajari anak membayangkan ejekan seperti air yang mengalir di atas baju anti air. Atau ajarkan kalimat afirmasi: “Aku tahu siapa diriku, dan omongan kakak tidak mengubah itu.”
3. Latih Respon Asertif, Bukan Melawan atau Diam
Anak yang mentalnya lemah biasanya merespon ejekan dengan dua cara: menangis (menarik simpati tapi jadi sasaran empuk) atau membalas (justru memicu konflik lebih besar). Latih ia untuk respon asertif yang tenang namun tegas, misalnya:
-
“Aku nggak suka omongan kamu, Kak.”
-
“Kalau nggak ada omongan baik, lebih baik diam.”
-
Lalu pergi meninggalkan situasi.
Respon ini lebih kuat dari diam pasif atau tangisan. Ini menunjukkan bahwa harga dirinya tidak tergantung pada izin kakak.
4. Jangan Jadikan Kedua Anak Sebagai “Musuh” – Perbaiki Pola Relasi
Sering kali, orang tua sibuk membela adik dan menghukum kakak. Akibatnya, kakak makin benci, adik makin merasa korban. Padahal, mental adik tidak akan kuat jika ia terus-menerus diposisikan sebagai “korban lemah” yang butuh penyelamatan. Sebaliknya, lakukan pendekatan restoratif: ajak kakak memahami dampak ejekannya, dan ajak adik menyuarakan perasaannya di depan kakak (dengan dampingan orang tua). Bantu mereka menemukan cara baru berinteraksi yang menghormati keduanya.
5. Tanamkan Identitas di Luar Relasi Kakak-Adik
Anak yang hanya mendapat pengakuan dari keluarga dekat akan hancur jika kakaknya terus mengejek. Bentengi mentalnya dengan membangun identitas alternatif. Libatkan ia dalam ekstrakurikuler, komunitas, atau hobi di mana ia dihargai. Ketika anak merasa dirinya adalah “atlet hebat,” “pelukis berbakat,” atau “teman yang baik di sekolah,” ejekan kakak perlahan kehilangan dayanya. Ia punya panggung lain untuk merasa berarti.
6. Konsisten Menjadi “Pelabuhan Aman”
Anak yang sering diejek butuh satu tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura kuat. Jadilah pendengar yang baik tanpa langsung memberikan solusi. Cukup dengan pelukan dan kalimat, “Ibu percaya kamu anak hebat,” sangat berarti. Kunci ketahanan mental sebenarnya bukan pada membuat anak kebal ejekan, tapi memastikan ia tahu bahwa di rumah selalu ada yang memihak dirinya.
Kesimpulan
Menguatkan mental anak yang sering diejek kakaknya bukan berarti mengajarinya menjadi “anak tangguh” yang anti-sensitif. Sebaliknya, justru mengajarinya bahwa ia berhak merasa terluka, berhak membela diri, dan berhak untuk tidak menerima perlakuan buruk dari siapa pun – termasuk kakaknya sendiri. Dengan validasi, keterampilan asertif, dukungan tanpa syarat, serta perbaikan hubungan antar saudara, mental anak tidak hanya menjadi kuat, tapi juga sehat.
Karena keluarga seharusnya bukan ajang latihan “kekebalan ejekan”, melainkan tempat pertama seorang anak belajar tentang rasa hormat dan kasih sayang.
