Pemerintah Indonesia berencana mewajibkan pencampuran etanol 10% (E10) ke dalam bensin mulai tahun 2027 . Kebijakan ini sejalan dengan tren global yang menjadikan etanol sebagai salah satu solusi untuk transisi energi. Namun, di balik citranya sebagai bahan bakar “ramah lingkungan” dan “terbarukan”, pembakaran etanol menyimpan dampak kompleks terhadap pencemaran udara yang perlu dipahami secara utuh.
Artikel ini menyajikan analisis komprehensif mengenai dua sisi dampak etanol terhadap kualitas udara—keunggulannya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca versus tantangan baru dari emisi polutan berbahaya.
Mengapa Etanol Disebut Lebih Ramah Lingkungan?
Siklus Karbon Tertutup
Keunggulan utama etanol dibandingkan bensin fosil terletak pada konsep carbon neutral. Etanol diproduksi dari fermentasi karbohidrat tanaman seperti tebu, singkong, atau jagung . Saat etanol dibakar, karbon dioksida (CO₂) yang dilepaskan akan diserap kembali oleh tanaman melalui fotosintesis untuk menghasilkan bahan baku etanol baru. Siklus ini menyebabkan tidak ada penambahan CO₂ bersih ke atmosfer .
Peneliti ITB, Prof. Ronny Purwadi, menjelaskan bahwa siklus ini memungkinkan etanol diklaim memiliki emisi net zero . Data dari Renewable Fuels Association (RFA) menunjukkan intensitas emisi karbon dari siklus hidup etanol saat ini sekitar 46 persen lebih rendah dibandingkan bensin—etanol menghasilkan 53,3 gram CO₂ ekuivalen per megajoule (gCO₂e/MJ), sementara bensin mencapai 98,5 gCO₂e/MJ .
Pengurangan Partikel Jelaga
Dari perspektif polusi udara perkotaan, etanol juga menawarkan keuntungan signifikan dalam mengurangi emisi particulate matter (PM) atau partikel jelaga. European Renewable Ethanol (ePURE) melaporkan bahwa pencampuran etanol (E10 dan E85) dapat mengurangi emisi materi partikulat antara 80% hingga lebih dari 90% dibandingkan bensin fosil .
Sifat kimiawi etanol menjadi kunci di sini. Sebagai molekul yang mengandung oksigen dalam strukturnya (C₂H₅OH), etanol memungkinkan proses pembakaran yang lebih sempurna. Hal ini secara efektif mengurangi emisi gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), dan nitrogen oksida (NOx) .
Sisi Gelap Pembakaran Etanol: Polutan Baru yang Muncul
Meskipun unggul dalam emisi CO₂ dan PM, pembakaran etanol tidak sepenuhnya bersih. Penelitian ilmiah justru mengungkap bahwa etanol dapat menghasilkan polutan berbahaya jenis baru yang sebelumnya tidak dominan pada pembakaran bensin murni.
Ledakan Emisi Karbonil (Aldehida)
Dampak paling mengkhawatirkan dari pembakaran etanol adalah peningkatan drastis emisi senyawa karbonil, terutama formaldehida dan asetaldehida. Penelitian yang dipublikasikan di Environmental Science and Pollution Research (2025) mengungkap data mencengangkan:
| Parameter | Bensin (B10) | Etanol 10% (E10) | Etanol 20% (E20) |
|---|---|---|---|
| Emisi Formaldehida | ~200 mg/kWh | 303-594 mg/kWh | 650-1086 mg/kWh |
| Emisi Asetaldehida | ~19 mg/kWh | 2.643 mg/kWh | 3.229 mg/kWh |
Peningkatan emisi asetaldehida mencapai 11.058% untuk E10 dan 13.934% untuk E20 dibandingkan bahan bakar dasar .
Asetaldehida adalah senyawa yang diklasifikasikan sebagai Kemungkinan Karsinogenik pada Manusia (Grup 2B) oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Paparan jangka panjang terhadap senyawa ini dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kanker.
Risiko Partikel Beroksigen
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Fuel (Elsevier, 2026) menemukan fenomena penting lainnya: pembakaran etanol menghasilkan partikel karbon (jelaga) yang mengandung atom oksigen yang terikat dalam strukturnya .
Oksigen dalam partikel jelaga ini berasal dari proses oksidasi fase gas, dengan asetaldehida sebagai kontributor utama. Partikel-partikel ini umumnya berukuran sangat kecil—kebanyakan di bawah 10 nanometer. Karena ukurannya yang ekstrem kecil, partikel ini dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai daerah alveolar paru-paru .
Studi toksikologi menunjukkan bahwa partikel karbon yang mengandung gugus oksigen ini dapat mengganggu homeostasis biologis, memicu respons imun, dan memperburuk kondisi seperti PPOK, asma, fibrosis paru idiopatik, serta berkontribusi pada perkembangan kanker paru-paru .
Perbandingan Dampak: Etanol vs Bensin
Tabel berikut merangkum perbedaan dampak pencemaran udara antara pembakaran etanol dan bensin:
| Parameter Pencemaran | Etanol | Bensin | Pemenang |
|---|---|---|---|
| Emisi CO₂ (siklus hidup) | 53,3 gCO₂e/MJ | 98,5 gCO₂e/MJ | ✅ Etanol |
| Particulate Matter (jelaga) | 80-90% lebih rendah | Baseline | ✅ Etanol |
| Formaldehida | Meningkat sangat signifikan | Baseline | ❌ Etanol |
| Asetaldehida | Meningkat >11.000% | Baseline | ❌ Etanol |
| Potensi karsinogenik | Meningkat (aldehida) | Lebih rendah untuk aldehida | ❌ Etanol |
Tantangan Implementasi di Indonesia
Penerapan kebijakan E10 di Indonesia tidak bisa dilakukan tanpa antisipasi teknis. Beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:
-
Dampak pada mesin kendaraan: Etanol bersifat higroskopis (menyerap air) dan dapat menyebabkan komponen karet pada sistem bahan bakar mengembang (swelling), berpotensi menimbulkan kebocoran .
-
Peningkatan kebutuhan aditif: Kandungan etanol memerlukan aditif pengontrol deposit yang lebih banyak agar komponen mesin tetap bersih .
-
Rawan vapour lock: Sifat etanol yang mudah menguap pada suhu kamar dapat menghambat suplai bahan bakar ke mesin .
-
Perlunya sistem katalis khusus: Untuk mengatasi lonjakan emisi karbonil, diperlukan sistem catalytic converter yang dirancang khusus untuk menangani aldehida—teknologi yang belum umum diterapkan di kendaraan Indonesia saat ini .
Kesimpulan
Etanol menawarkan solusi menjanjikan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi partikel jelaga di perkotaan. Siklus karbon tertutupnya menjadikannya pilihan yang lebih berkelanjutan dibandingkan bensin fosil.
