Skip to content
Pusat Layanan Sumber Daya dan Kesejahteraan
PUSLASKA
Call Support 0811-6013-888
Email Support [email protected]
Location Jl. Kolam No. 1 Medan Estate
  • Beranda
  • Tentang
    • Visi & Misi
    • Profil
    • Struktur Organisasi
    • Pimpinan Dan Staff
  • Berita
  • Kerjasama
  • Layanan & Informasi
    • Aplikasi Layanan
      • Aplikai UMA
        • Sikuma
        • Direktori Dosen
        • Direktori Tenaga Pendidik
      • Aplikasi Kemdikbud/Dikti
        • Sister
        • PDDIKTI
    • Arsip Digital
      • Dokumen Dosen
      • Dokumen Tendik
      • Artikel
    • Helpdesk
  • id ID
    • en EN
    • id ID

Bahan Bakar Ramah Lingkungan dan Ancaman Baru bagi Kualitas Udara

Home > Artikel > Bahan Bakar Ramah Lingkungan dan Ancaman Baru bagi Kualitas Udara

Bahan Bakar Ramah Lingkungan dan Ancaman Baru bagi Kualitas Udara

Posted on Juni 4, 2026 by ishaq
0

Pemerintah Indonesia berencana mewajibkan pencampuran etanol 10% (E10) ke dalam bensin mulai tahun 2027 . Kebijakan ini sejalan dengan tren global yang menjadikan etanol sebagai salah satu solusi untuk transisi energi. Namun, di balik citranya sebagai bahan bakar “ramah lingkungan” dan “terbarukan”, pembakaran etanol menyimpan dampak kompleks terhadap pencemaran udara yang perlu dipahami secara utuh.

Artikel ini menyajikan analisis komprehensif mengenai dua sisi dampak etanol terhadap kualitas udara—keunggulannya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca versus tantangan baru dari emisi polutan berbahaya.

Mengapa Etanol Disebut Lebih Ramah Lingkungan?

Siklus Karbon Tertutup

Keunggulan utama etanol dibandingkan bensin fosil terletak pada konsep carbon neutral. Etanol diproduksi dari fermentasi karbohidrat tanaman seperti tebu, singkong, atau jagung . Saat etanol dibakar, karbon dioksida (CO₂) yang dilepaskan akan diserap kembali oleh tanaman melalui fotosintesis untuk menghasilkan bahan baku etanol baru. Siklus ini menyebabkan tidak ada penambahan CO₂ bersih ke atmosfer .

Peneliti ITB, Prof. Ronny Purwadi, menjelaskan bahwa siklus ini memungkinkan etanol diklaim memiliki emisi net zero . Data dari Renewable Fuels Association (RFA) menunjukkan intensitas emisi karbon dari siklus hidup etanol saat ini sekitar 46 persen lebih rendah dibandingkan bensin—etanol menghasilkan 53,3 gram CO₂ ekuivalen per megajoule (gCO₂e/MJ), sementara bensin mencapai 98,5 gCO₂e/MJ .

Pengurangan Partikel Jelaga

Dari perspektif polusi udara perkotaan, etanol juga menawarkan keuntungan signifikan dalam mengurangi emisi particulate matter (PM) atau partikel jelaga. European Renewable Ethanol (ePURE) melaporkan bahwa pencampuran etanol (E10 dan E85) dapat mengurangi emisi materi partikulat antara 80% hingga lebih dari 90% dibandingkan bensin fosil .

Sifat kimiawi etanol menjadi kunci di sini. Sebagai molekul yang mengandung oksigen dalam strukturnya (C₂H₅OH), etanol memungkinkan proses pembakaran yang lebih sempurna. Hal ini secara efektif mengurangi emisi gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), dan nitrogen oksida (NOx) .

Sisi Gelap Pembakaran Etanol: Polutan Baru yang Muncul

Meskipun unggul dalam emisi CO₂ dan PM, pembakaran etanol tidak sepenuhnya bersih. Penelitian ilmiah justru mengungkap bahwa etanol dapat menghasilkan polutan berbahaya jenis baru yang sebelumnya tidak dominan pada pembakaran bensin murni.

Ledakan Emisi Karbonil (Aldehida)

Dampak paling mengkhawatirkan dari pembakaran etanol adalah peningkatan drastis emisi senyawa karbonil, terutama formaldehida dan asetaldehida. Penelitian yang dipublikasikan di Environmental Science and Pollution Research (2025) mengungkap data mencengangkan:

Parameter Bensin (B10) Etanol 10% (E10) Etanol 20% (E20)
Emisi Formaldehida ~200 mg/kWh 303-594 mg/kWh 650-1086 mg/kWh
Emisi Asetaldehida ~19 mg/kWh 2.643 mg/kWh 3.229 mg/kWh

Peningkatan emisi asetaldehida mencapai 11.058% untuk E10 dan 13.934% untuk E20 dibandingkan bahan bakar dasar .

Asetaldehida adalah senyawa yang diklasifikasikan sebagai Kemungkinan Karsinogenik pada Manusia (Grup 2B) oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Paparan jangka panjang terhadap senyawa ini dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kanker.

Risiko Partikel Beroksigen

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Fuel (Elsevier, 2026) menemukan fenomena penting lainnya: pembakaran etanol menghasilkan partikel karbon (jelaga) yang mengandung atom oksigen yang terikat dalam strukturnya .

Oksigen dalam partikel jelaga ini berasal dari proses oksidasi fase gas, dengan asetaldehida sebagai kontributor utama. Partikel-partikel ini umumnya berukuran sangat kecil—kebanyakan di bawah 10 nanometer. Karena ukurannya yang ekstrem kecil, partikel ini dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai daerah alveolar paru-paru .

Studi toksikologi menunjukkan bahwa partikel karbon yang mengandung gugus oksigen ini dapat mengganggu homeostasis biologis, memicu respons imun, dan memperburuk kondisi seperti PPOK, asma, fibrosis paru idiopatik, serta berkontribusi pada perkembangan kanker paru-paru .

Perbandingan Dampak: Etanol vs Bensin

Tabel berikut merangkum perbedaan dampak pencemaran udara antara pembakaran etanol dan bensin:

Parameter Pencemaran Etanol Bensin Pemenang
Emisi CO₂ (siklus hidup) 53,3 gCO₂e/MJ 98,5 gCO₂e/MJ ✅ Etanol
Particulate Matter (jelaga) 80-90% lebih rendah Baseline ✅ Etanol
Formaldehida Meningkat sangat signifikan Baseline ❌ Etanol
Asetaldehida Meningkat >11.000% Baseline ❌ Etanol
Potensi karsinogenik Meningkat (aldehida) Lebih rendah untuk aldehida ❌ Etanol

Tantangan Implementasi di Indonesia

Penerapan kebijakan E10 di Indonesia tidak bisa dilakukan tanpa antisipasi teknis. Beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:

  1. Dampak pada mesin kendaraan: Etanol bersifat higroskopis (menyerap air) dan dapat menyebabkan komponen karet pada sistem bahan bakar mengembang (swelling), berpotensi menimbulkan kebocoran .

  2. Peningkatan kebutuhan aditif: Kandungan etanol memerlukan aditif pengontrol deposit yang lebih banyak agar komponen mesin tetap bersih .

  3. Rawan vapour lock: Sifat etanol yang mudah menguap pada suhu kamar dapat menghambat suplai bahan bakar ke mesin .

  4. Perlunya sistem katalis khusus: Untuk mengatasi lonjakan emisi karbonil, diperlukan sistem catalytic converter yang dirancang khusus untuk menangani aldehida—teknologi yang belum umum diterapkan di kendaraan Indonesia saat ini .

Kesimpulan

Etanol menawarkan solusi menjanjikan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi partikel jelaga di perkotaan. Siklus karbon tertutupnya menjadikannya pilihan yang lebih berkelanjutan dibandingkan bensin fosil.

INSTAGRAM

puslaska_uma

#HALLKAMPUSUMA Informasi Hall UMA : - 0812-6354-16 #HALLKAMPUSUMA
Informasi Hall UMA :
- 0812-6354-160
- 0852-9777-8634
.

Informasi dan Pendaftaran Mahasiswa Baru :
➖➖➖➖➖➖➖
https://pmb.uma.ac.id
➖➖➖➖➖➖➖

Call Center UMA :
☎️0811 6013 888

#ptssehat #ptsterbaik #UMAkampusJuara w @download_repost_pro
Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Kenaikan Jabatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Kenaikan Jabatan Akademik Dosen Tahun 2026, sesuai PERMENDIKTISAINTEK NO. 39/M/KEP/2026.

Acara ini berlangsung di Conference Room Prof. Dr. H. A. Ya'kub Matondang M.A Gedung Biro Rektor Lt. 3 pada tanggal 12 Mei 2026.
Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Universitas Medan Area - Bapak Prof. Dr. Dadan Ramdan, M.Eng., M.Sc. beserta Para Wakil Rektor; Ka. BARAKA - Bapak Sulhana Perdana Putra Lubis, SE. Hadir pula Kepala LLDIKTI Wilayah I Sumatera Utara - Bapak Prof. Drs. Saiful Anwar Matondang, M.A., Ph.D. Dan sebagai pemateri pada kegiatan ini, Ibu Vina Winda Sari, S.E., M.Ak. selaku Analis SDM Aparatur Ahli Muda LLDIKTI Wilayah I Sumatera Utara beserta tim dan jajarannya.

Informasi Lengkap Kunjungi :
➖➖➖➖➖➖➖➖
https://puslaska.uma.ac.id/
➖➖➖➖➖➖➖➖

Call Center UMA :
☎️0811-6013-888
.
#umabestari #universitasmedanarea #ptssehat #ptsterbaik ptsfavorite ptsmedan kampusmedan kampusfavorite kampusterbaik umasehat umabestari universitasmedanarea ptssehat tekniksipil teknikelektro teknikmesin arsitektur teknikindustri teknikinformatika manajemen akuntansi psikologi hukum ilmukomunikasi administrasipublik studikepemerintahan agroteknologi agribisnis biologi pascasarjana ptsterbaik ptsfavorite ptsmedan
#UNSDSNUMA UMA officially a member of UN Sustainab #UNSDSNUMA
UMA officially a member of UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN) dan bergabung dgn 2100 universitas di dunia.
.
Informasi dan Pendaftaran Mahasiswa Baru :
➖➖➖➖➖➖➖
https://pmb.uma.ac.id
➖➖➖➖➖➖➖

Call Center UMA :
☎️0811 6013 888

#ptssehat #ptsterbaik #UMAkampusJuara KampusUnggul
#RANGKING Alhamdulillah Universitas Medan Area mer #RANGKING
Alhamdulillah Universitas Medan Area meraih peringkat # 1 PTS pada Webometrics Rangking of Universities Januari 2026.
.
Informasi dan Pendaftaran Mahasiswa Baru :
➖➖➖➖➖➖➖
https://pmb.uma.ac.id
➖➖➖➖➖➖➖

Call Center UMA :
☎️0811 6013 888

#ptssehat #ptsterbaik #UMAkampusJuara KampusUnggul
Follow on Instagram

ALAMAT


Berita Lainnya

  • Bahan Bakar Ramah Lingkungan dan Ancaman Baru bagi Kualitas Udara
  • Bahan Bakar Ramah Lingkungan dan Ancaman Baru bagi Kualitas Udara
  • Mengungkap Misteri “Anti Petir” Pada Gedung Pencakar Langir
  • Penyebab Terjadinya Angin Kencang pada Dataran Rendah
  • 5 Dampak Baik untuk Masa Depan Dengan Mengajak Anak Usia 2 Tahun Bercakap-cakap

Kategori

  • Artikel
  • Berita
  • KERJASAMA
  • PENGUMUMAN
  • Slider
  • Uncategorized
KAMPUS I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
(061) 7360168, Call Center : 0811-6013-888
Email : [email protected]
KAMPUS II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
(061) 42402994. Call Center : 0811-6013-888
Email: [email protected]
©PUSLASKA 2026- Universitas Medan Area